Perjalanan waktu memang sebuah misteri, hanya yang Maha Berkendak tahu jalan dan endingnya......
Kisah ini akan menceritakan perjalanan seorang yang bernama snow, dia sahabat baik ku. Dia memiliki jalan hidup yang nyaris tanpa belokan dan tanjakan yang bearti sampai pada satu titik yang membuat semua terasa begitu berat. Snow sekantor dengan ku, dia seorang profesional dan bekerja dengan hati. Dia cuma tahu bekerja dan bekerja, kepentingan pribadi sering dinomor duakan. Ada kisah yang bikin aku kesal saat dia bercerita waktu akan melakukan pernikahan pada hari sabtu, tapi hari jumat malamnya dia masih saja mengentry laporan yang membuat dia mesti berantem sama keluarganya karena dia masih saja memikirkan pekerjaan padahal besok paginya dia harus ijab kabul. Tapi ya begitulah sigila kerja yang totalitas tanpa batas. Ini tidak berhenti sampai disini, hari selasanya dia resepsi, rabunya hari besar keagaamaan jadi ya hari libur, seninnya langsung masuk kerja tuh orang. Apa tidak pengen ambil cuti buat jalan-jalan kayak orang-orang, memang agak laen dia.
Hari hari dikerjaan dilalui dengan penuh semangat, pulang larut malam, makan pun berantakan, ya itu mungkin yang buat dia merasa bahagia demi tempat kerjaan yang dia cintai, walau kadang sudah tidak masuk akal. Ada suatu masa dia dipromosikan megang sebuah divisi. Dia tahu berbagai kelemahan di divisi tersebut sehingga sudah banyak ide perbaikan yang ada di otaknya. Tapi untuk melaksanakan semua ide ide tersebut dia tidak didukung oleh sumber keuangan dari kantor, tapi dasar si pengabdi negara tanpa mikir panjang dia mau maunya pakai uang pribadi untuk kepentingan perbaikan kantor, katanya sih dia sudah sepertujuan istrinya untuk itu, jadi suami istri sama-sama aneh sih, saat orang orang di kantor mencari segala macam cara untuk dapat uang dari kantor baik cara hitam atau putih malah dia pakai uangnya demi kantor, snow oh snow...., apasih yang ada diotakmu.
Drama hidup snow dimulai saat dia yang pergi menimba ilmu dan pulang kembali ke kantor yang sangat dia sayangi itu. Beragam ide dan semangat yang membara untuk kantor dia bawa, tapi tunggu dulu snow, ternyata dia harus ingat kata-kata abang-abang SPBU saat akan mengisi BBM, "di mulai dari 0 ya pak". Kantor yang snow cintai itu mengharuskan dia memulai semuanya dari 0, kembali jadi staf di kantor, nikmati ya snow.
Dia pernah cerita berat rasanya harus memulai dari awal, dia menganalogikan seorang aparat yang pulang dari pendidikan maka akan diberi posisi yang lebih baik dibanding sebelum berangkat pendidikan, dia tidak berharap posisi yang lebih baik, tapi dia hanya butuh ruang mengaktualisasikan diri untuk bisa berperan dalam memajukan kantor, aku hanya bisa memberi komentar "sepertinya kamu berada di tempat yang kurang tepat snow....., semangat saja". ya cuma itu yang bisa ku katakan pada snow, kerena ku paham bagaimana pahit yang dia rasakan, tapi apa daya ku yang cuma bisa bantu doa saja.
Masa-masa kelam yang dialami dikira hanya akan berlangsung paling dalam beberapa bulan. Tapi malang nasib mu snow, ternyata ini berlangsung bertahun tahun. Ruang yang dia butuh untuk berkembang tidak dia dapat, malah penghakiman yang dia peroleh. Dia dibilang tidak pandai bersyukur lah, yang bilang seperti itu orang yang pagang jabatan tinggi, ya sama saja si kenyang menasehati si lapar untuk sabar ya, syukuri, itu ada yang mati barusan, kamu untung masih hidup.
Hari hari dilewatinya dengan menghitung sudah berapa tahun masa yang dia lewati difase ini, sampai jarinya menunjukan sudah masuk tahun keenam. Dia mencoba menerima kondisi yang ada, tapi nasib buruk ternyata tidak berhenti mengikuti snow. Si penguasa yang sangat bijaksana bukannya memberi ruang yang selayaknya diperoleh snow malah memindahkan snow ke kantor cabang dengan tetap sebagai staf, waaaawwww...., keren itu si penguasa, menghancurkan orang tidak tanggung-tanggung. Menjadikan orang yang dulu pernah memimpin sebuah divisi menjadi staf paling bawah di kantor cabang, anda memang keren.
Berjam jam snow menceritakan kisahnya..., aku cuma bisa mendengar sampai melihat mata snow sudah tidak sanggup menahan air yang sudah ditahan jatuh dari matanya. Aku pun tidak sanggup berkata apa-apa, getar suaranya menyayat hatiku. tidak terima ku dengan apa yang dialaminya. Tempat yang sangat dia cintai, dia perjuangkan selama ini ternyata menjadi alasan yang mengharuskan dia mengkonsumsi obat dari psikiater. Tragis nasibmu snow, ku tahu kamu tidak gila jabatan, kamu tidak gila uang, kalau kamu gila uang disaat pegang divisi yang dianggap basah sama orang-orang pasti uangmu dan asetmu akan bertambah, malah uang tabunganmu yang digunakan untuk melaksanakan semua ide-idemu. Iya itu realita hidup yang harus dialami sahabat ku ini, depresi dilekatkan psikiater terhadap kondisimu seperti suatu hal yang tidak seharusnya dialaminya kalau saja ada kepedulian orang di tempat kerja terhadap kondisi pekerjanya. Perjuangan totalitasmu sepertinya dari awal memang akan kalah dengan loyalitas tanpa batas yang dibutuhkan mereka.
Hari-hari yang dia lalui sangat berat, sampai pada suatu waktu dia mau menyerah. Jahatnya lingkungan kerja yang tidak peduli kesehatan mental sesorang sungguh sebuah ironi. Padahal mungkin saja mereka itu cuma butuh satu alasan saja untuk mengakhiri semuanya.
Pagi itu kutelat bangun karena semalam tidak bisa tidur karena ada bunyi-bunyi berisik dari rumah tetangga yang sampai larut malam masih karaokean dengan lagu-lagu yang sangat tidak jelas. saat bangun ku buka hp, ternyata 3 jam yang lalu ada sebuah pesan dari snow, pesan singkat tapi dalam, "Bolehkah aku bahagia hari ini"?. Lalu ku coba untuk menelponnya untuk mendengar rasa kecewa terdalamnya. Tapi telpon ku tidak diangkat, berkali kali ku coba telpon kembali tetap tidak diangkat. Ku coba ambil kunci motor dan kunyalakan, lalu ku menuju kosannya. Sesampai disitu ku lihat orang telah ramai, termasuk abangnya. Abangnya mendekat dan berkata "penderitaannya sudah berakhir". Ku coba melangkah pelan ke kamarnya dan ku lihat ada seberkas senyum di bibirnya, di telinganya kubisikan "bahagia telah kamu miliki selamanya, bukan cuma buat hari ni". Dia telah pergi dengan membawa sedih yang mendalam, sahabat ku....., dunia mungkin tidak bersahabat denganmu, tapi aku yakin semua yang pernah kamu perbuat tidak akan sia-sia, aia mata dari kerasnya hidup akan jadi penyejuk di alam barumu. Selamat jalan menuju bahagia mu kawan................